Merasa ‘Napas Saja Gendut’ saat yang Lain Makan Barbar Tetap Kurus? Dokter Gizi Buka Suara

Jakarta –

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa setelah mencoba segala jenis diet, hasilnya hampir tidak pernah memuaskan? Hal ini mungkin berkaitan dengan efek genetik setiap orang.

Genetika tertentu membuat metabolisme seseorang berbeda dengan orang lain karena beberapa faktor. Tak heran, bagi sebagian orang, menurunkan berat badan lebih dari dua minggu merupakan hal yang mudah, sedangkan bagi kelompok lainnya sangat sulit.

Ada juga orang yang tetap kurus meski porsi makannya sama atau lebih besar dari asupan hariannya. Dr Arti Indira M Gizi SpGK mengatakan, risiko tersebut sebenarnya bisa dilihat pada pengujian genomik terkait nutrisi atau nutrigenomik.

Tes nutrigenomik dapat menganalisis bagaimana perbedaan genetik berhubungan dengan risiko obesitas dan kondisi yang memengaruhi rasa lapar atau kenyang seseorang. Ada yang terlahir dengan risiko tinggi mengalami obesitas atau sebaliknya.

“Jadi, misalnya ada risiko obesitas, hal ini sering dikaitkan dengan pernyataan seperti, misalnya, mengapa Anda mengira Anda makan lebih sedikit dibandingkan orang lain, padahal berat badan Anda mudah sekali bertambah. Ya bukan tanpa sebab, tapi karena itu ada variasi genetik di dalam tubuh, metabolismenya lebih lambat,” ujarnya saat ditemui detikcom di acara Prodia Genomic, JW Marriot, Jakarta Pusat, Sabtu (17/2/2024). . ).

Sedangkan bagi yang tidak berisiko obesitas, metabolismenya mungkin lebih cepat sehingga berat badannya stabil, dan nanti dari uji genom akan kita lihat faktor lainnya, lanjutnya.

Nutrigenomik akan menganalisis pola makan mana yang sesuai dengan risiko penyakit dan profil genetik secara keseluruhan. Tes genom juga menganalisis sensitivitas pasien terhadap makanan atau minuman tertentu.

Misalnya saja mereka yang sensitif terhadap kopi karena risiko penyakit tertentu. Semuanya terlihat pada profil genetik.

“Jadi nanti dari panel genom kita bisa memahami sensitivitas pasien, misalnya terhadap kopi, gluten, garam, atau misalnya asal usul lemak tertentu,” ujarnya.

Di sisi lain, penelitian genom juga memungkinkan pasien mencapai efek penurunan berat badan yang optimal dengan pola makan atau diet yang akan mereka ikuti. Dengan kata lain, jangan selalu banyak bicara dan sembarangan bereksperimen dengan berbagai jenis diet yang mungkin sedang populer.

“Misalnya bagaimana kemampuan tubuh dalam memetabolisme makanan yang merupakan sumber vitamin D, kemudian vitamin dan mineral lainnya, terutama makronutrien, sehingga bisa mengetahui apakah diet keto layak dilakukan? Nanti kita akan mengetahui dari tes genom bahwa saya tidak cocok untuk memberi banyak lemak. “Tinggi, jadi bisa ditentukan dengan nutrigenomik atau misalnya saya mau memasukkan protein yang lebih banyak, apakah sesuai? Atau hasilnya biasa-biasa saja? Nah nanti bisa diketahui dengan kajian nutrigenomik”, tutupnya. Simak video “Peringatan PB IDI terhadap Dokter Palsu: Jangan Hanya Lihat Gelar Kedokterannya” (naf/up)

Prabowo Sebut Bakal Tambah 300 Fakultas Kedokteran, IDI: Berlebihan, Lebih Baik Buka Prodi Spesialis

Danonevitapole, Jakarta – Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menyatakan akan menambah 300 fakultas kedokteran (FK). Saat ini terdapat 92 fakultas kedokteran di Indonesia. Selain FK didatangkan untuk menghilangkan kekurangan 140 ribu dokter di Indonesia.

Pada debat calon presiden terakhir, program Prabowo sempat dibahas oleh Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia dr Muhammad Adeeb Khomidi, SpoT. Adib dengan tegas menyatakan penambahan FK terlalu berlebihan.

Adib Online mengatakan, Senin (5/2/2024): “Menambahkan (300) kapasitas medis terlalu banyak. Jauh lebih banyak”.

Adib mengatakan, pendirian fakultas kedokteran harus berdasarkan kebutuhan. Sementara itu, jika fakultas kedokteran semakin banyak didirikan, maka dalam lima tahun ke depan akan banyak dihasilkan lulusan fakultas kedokteran yang akan menjadi dokter umum. Sehingga yang terjadi adalah akan terjadi kelebihan dokter di Indonesia.

Adib mengatakan, “Kalau bicara produksi (produk dokter) tanpa bicara alokasi dan distribusi, maka kita akan menghadapi pengangguran intelektual profesional, yaitu tenaga medis sebagai profesional.”

“Intelektual pengangguran profesional itu sebenarnya bekerja sebagai dokter, tapi dia tidak mendapatkan pekerjaan,” jelas Adib.

Sangat disayangkan bila dokter menjadi pengangguran. Selain itu, biaya pendidikan kedokteran mahal. Lalu ketika lulus, dokternya terlalu banyak dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan.

“Maka harus dimulai dengan mengetahui jumlah dokter yang dibutuhkan,” kata Adib.

Adib menegaskan, saat ini dibutuhkan dokter spesialis. Sedangkan kalau kita buka 300 fakultas kedokteran, kita akan cari dokter umum.

Adib menyarankan: “Sebenarnya yang kita perlukan adalah dokter spesialis. Makanya sekarang kita perlu membuka program studi dokter spesialis sesuai kebutuhan masing-masing daerah lalu program mana di daerah itu yang diprioritaskan.”

Berdasarkan data terakhir Konsil Kedokteran Indonesia, jumlah dokter sebanyak 226.090 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 173.247 orang merupakan dokter umum dan 52.843 orang merupakan dokter spesialis.

Membuka debat capres kelima di Jakarta Convention Center (JCC) pada Minggu malam, 4 Februari 2024, Prabowo angkat bicara soal rencana penambahan fakultas kedokteran.

Prabowo mengatakan, “Dengan adanya penambahan kapasitas medis (FK) di Indonesia, maka akan segera ada kurang lebih 140 ribu dokter yang diberhentikan, dari saat ini 92 menjadi 300 kapasitas medis.

Prabowo berjanji akan mengirim sepuluh ribu (10 ribu) anak ternama Indonesia ke luar negeri untuk belajar kedokteran. Lalu ada 10.000 anak cerdas lainnya yang akan mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk belajar sains, matematika, biologi, dan fisika.